Dalam dunia permata, tidak ada yang memiliki daya pikat dan aura misteri sekuat Berlian Harapan. Dikenal sebagai salah satu berlian biru paling mahal di dunia, permata seberat 45,52 karat ini bukan hanya objek keindahan, tetapi juga subjek dari kisah-kisah gelap dan tragis yang telah melekat padanya selama berabad-abad. Legenda mengatakan bahwa berlian ini membawa kutukan, mendatangkan nasib buruk bagi siapa pun yang memilikinya. Kisah-kisah ini, terlepas dari kebenarannya, telah menambah lapisan mistis yang membuat Berlian Harapan begitu terkenal dan dihargai.
Sejarah kelamnya dimulai pada tahun 1668, ketika berlian ini pertama kali ditemukan di Tambang Kollur, India, oleh seorang penjelajah dan pedagang permata asal Prancis, Jean-Baptiste Tavernier. Saat itu, berlian ini masih dalam bentuk mentah seberat 112,5 karat dan dikenal sebagai Tavernier Blue. Tavernier menjualnya kepada Raja Louis XIV, yang kemudian memerintahkan pemotongan permata itu. Setelah dipotong, berlian tersebut dikenal sebagai French Blue. Namun, kutukan mulai menunjukkan taringnya. Raja Louis XIV meninggal karena penyakit, dan penerusnya, Louis XVI dan Marie Antoinette, menjadi korban Revolusi Prancis, dipenggal di depan publik. Banyak yang percaya bahwa nasib tragis mereka adalah akibat dari kepemilikan berlian ini.
Setelah Revolusi Prancis, berlian tersebut menghilang secara misterius pada tahun 1792. Butuh waktu puluhan tahun sebelum akhirnya muncul kembali dalam bentuk yang lebih kecil, yaitu Berlian Harapan yang kita kenal sekarang. Pada tahun 1839, berlian ini dibeli oleh Henry Hope, seorang bankir kaya dari Inggris, dan namanya pun diubah menjadi Hope Diamond. Namun, kutukan kembali beraksi. Keluarga Hope mengalami serangkaian kemalangan finansial dan masalah pribadi. Kemudian, berlian ini jatuh ke tangan Evalyn Walsh McLean, seorang sosialita kaya dari Washington, D.C., pada tahun 1911. Ia adalah salah satu pemilik yang paling berani, sering terlihat memakainya di berbagai acara sosial. Tetapi nasib buruk juga menimpanya: putranya meninggal dalam kecelakaan mobil, putrinya bunuh diri, dan suaminya gila.
Akhirnya, pada tahun 1958, Harry Winston, seorang perhiasan terkenal, membeli Berlian Harapan dan menyumbangkannya ke Museum Nasional Sejarah Alam Smithsonian di Washington, D.C., tempat ia dipamerkan hingga hari ini. Setelah disumbangkan, kutukan itu tampaknya berhenti. Tidak ada lagi tragedi yang menimpa para kurator museum atau penjaga. Namun, cerita-cerita tentang nasib buruk yang menimpa pemilik sebelumnya tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah permata ini, menjadikannya bukan hanya berlian termahal, tetapi juga salah satu yang paling menarik dan misterius di dunia.